Jam Gadang adalah sebutan bagi sebuah menara jam yang terletak di jantung Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat. Kita dapat melihat Gunung Merapi, Gunung
Singgalang, Gunung Sago Pada alun-alun jam gadang ini yang dikenal dengan istilah Tri Arga dan Ngarai
Sianak.Pada satu setengah abad yang lalu, Ratu Belanda Wilhelmina menghadiahkan jam kepada seorang controleur di Bukittinggi yang namanya Rook Maker. Jam tersebut bukanlah arloji atau jam dinding biasa, melainkan jam besar yang tetap bertahan dan menetap di kota tersebut sampai Rook Maker beranjak meninggalkan tanah jajahannya. Warga Bukit tinggi menamainya jam gadang yang berarti jam besar. Faktanya jam ini memang melekat pada menara setinggi 26 meter dan bisa dilihat dan segala penjuru kota. Dua arsitek setempat, Yasin dan Sutan Gigi Ameh, awalnya mendandani jam senilai 3.000 gulden ini dengan puncak membulat dan ornamen ayam jago. Seiring dengan bergulirnya waktu, menara jam gadang beberapa kali mengalami renovasi. Ketika kekuasaan Belanda disana berakhir, Bukittinggi dikuasai oleh Jepang, puncak jam gadang pun diubah menyerupai jinja, Yaitu atap berbentuk trapesium yang merupakan ciri khas kuil shinto. Setelah kemerdekaan, puncak menara diubah lagi menjadi atap bagonjong yang merupan ciri khas Minangkabau. Uniknya Jam gadang adalah akan kelihatan berbeda saat jarumnya menunjuk pukul empat. Meski seluruh bilangan waktu ditulis menggunakan angka Romawi, angka empat di jam tidak ditulis dengan lambang IV, melainkan lambang IIII.
Alat musik angklung merupakan alat musik yang tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia, Terutama di daerah jawa dan sekitarnya. Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari Tanah Sunda, Jawa barat. terbuat dan bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan bunyi alat musik ini disebabkan oleh benturan badan pipa bambu yang menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog. Dalam rumpun kesenian yang rnenggunakan alat musik dan bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.
Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dan ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur. Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.
Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dan ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur. Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.
